Perbedaan Blockly dan Scratch (Shakila Irwan P.)
SCRATCH
🔹 1. Asal dan Pengembang
-
Scratch: Dikembangkan oleh MIT Media Lab (Massachusetts Institute of Technology).
-
Blockly: Dikembangkan oleh Google.
🔹 2. Tujuan Utama
-
Scratch: Dirancang untuk mengajarkan konsep pemrograman dasar kepada anak-anak dan pemula melalui proyek interaktif seperti animasi dan game.
-
Blockly: Dirancang sebagai alat pembuat antarmuka visual untuk berbagai bahasa pemrograman (bisa diintegrasikan ke aplikasi lain).
🔹 3. Tampilan Antarmuka
-
Scratch: Memiliki tampilan berwarna-warni dengan karakter (sprite) dan panggung (stage) tempat animasi berjalan.
-
Blockly: Hanya berupa editor blok tanpa panggung animasi, tampilannya lebih sederhana dan teknis.
🔹 4. Cara Penggunaan
-
Scratch: Pemrograman dilakukan dengan menyusun blok dan langsung bisa melihat hasilnya (animasi, game, cerita interaktif).
-
Blockly: Biasanya digunakan untuk membangun kode yang diterjemahkan ke bahasa lain seperti JavaScript, Python, Lua, atau PHP.
🔹 5. Output / Hasil
-
Scratch: Hasilnya berupa proyek visual — animasi, permainan, cerita interaktif, dan simulasi.
-
Blockly: Hasilnya berupa kode teks yang bisa dijalankan di berbagai bahasa pemrograman.
🔹 6. Fokus Pembelajaran
-
Scratch: Fokus pada logika berpikir kreatif dan interaktif.
-
Blockly: Fokus pada struktur kode dan penerjemahan visual ke teks pemrograman.
🔹 7. Penggunaan Karakter (Sprite)
-
Scratch: Menggunakan sprite (karakter dan objek) yang bisa digerakkan dan dikendalikan.
-
Blockly: Tidak menggunakan sprite, karena bukan platform animasi.
🔹 8. Bahasa Pemrograman di Balik Layar
-
Scratch: Menggunakan JavaScript dan ActionScript di balik antarmukanya.
-
Blockly: Ditulis dalam JavaScript dan menghasilkan kode dalam berbagai bahasa (multibahasa).
🔹 9. Kustomisasi
-
Scratch: Tidak bisa dikustomisasi secara bebas, hanya bisa memakai blok yang disediakan.
-
Blockly: Bisa dikustomisasi — pengembang dapat menambah atau mengubah blok sesuai kebutuhan aplikasi.
🔹 10. Platform dan Penggunaan
-
Scratch: Dijalankan di situs web Scratch atau aplikasi offline resmi.
-
Blockly: Digunakan di berbagai situs web, aplikasi, atau proyek edukasi (misalnya Code.org, App Inventor, Tynker).
🔹 11. Tingkat Kesulitan
-
Scratch: Sangat mudah digunakan oleh anak-anak dan pemula.
-
Blockly: Sedikit lebih teknis, cocok untuk siswa yang ingin memahami transisi dari visual ke teks pemrograman.
🔹 12. Komunitas Pengguna
-
Scratch: Memiliki komunitas global besar yang berbagi proyek dan ide.
-
Blockly: Lebih digunakan oleh pengembang dan pendidik sebagai framework, bukan komunitas pembuat proyek.
🔹 13. Kemampuan Interaktif
-
Scratch: Bisa menambahkan suara, musik, efek visual, dan interaksi pengguna (keyboard, mouse).
-
Blockly: Tidak memiliki fitur interaksi langsung; hanya untuk pembuatan logika pemrograman.
🔹 14. Penyimpanan dan Berbagi Proyek
-
Scratch: Proyek dapat disimpan online dan dibagikan ke komunitas.
-
Blockly: Biasanya tidak memiliki sistem berbagi proyek, tergantung implementasi situs yang menggunakannya.
🔹 15. Contoh Penggunaan
-
Scratch: Membuat game sederhana seperti “Menangkap Kucing” atau “Lompat Bola.”
-
Blockly: Digunakan pada situs Code.org atau Google App Inventor untuk belajar kode visual.
🔹 16. Kelebihan Utama
-
Scratch: Interaktif, menyenangkan, mendukung kreativitas visual.
-
Blockly: Fleksibel, bisa diintegrasikan dengan berbagai bahasa pemrograman.
🔹 17. Kekurangan
-
Scratch: Kurang cocok untuk belajar bahasa pemrograman “asli” (seperti Python, JavaScript).
-
Blockly: Tidak memiliki visualisasi langsung (tidak bisa melihat hasil dalam bentuk animasi).
🔹 18. Contoh Bahasa yang Didukung
-
Scratch: Tidak mendukung konversi ke bahasa teks lain.
-
Blockly: Bisa menghasilkan kode Python, JavaScript, PHP, Lua, dan Dart.
🔹 19. Usia Pengguna yang Disarankan
-
Scratch: Usia 8 tahun ke atas (SD hingga SMP).
-
Blockly: Umumnya untuk siswa SMP hingga mahasiswa.
🔹 20. Akses Offline
-
Scratch: Ada versi offline editor.
-
Blockly: Tidak memiliki versi resmi offline, harus diintegrasikan dengan aplikasi.


Komentar
Posting Komentar