Perbedaan Blockly dan Scratch (Nur Alifah Safira)
Perbedaan Blockly dan Scratch
1. Asal dan Pengembang
Scratch: Dikembangkan oleh MIT Media Lab (Massachusetts Institute of Technology).
Blockly: Dikembangkan oleh Google.
2. Tujuan Utama
Scratch: Dirancang khusus untuk pembelajaran pemrograman bagi anak-anak dan pemula melalui animasi, game, dan cerita interaktif.
Blockly: Dirancang sebagai alat bantu visual programming yang bisa diintegrasikan ke berbagai aplikasi atau platform pembelajaran lain.
3. Platform
Scratch: Bisa diakses melalui situs scratch.mit.edu
atau aplikasi offline.
Blockly: Biasanya tidak berdiri sendiri; digunakan oleh pengembang untuk membuat antarmuka pemrograman visual dalam situs atau aplikasi (contohnya: Code.org, App Inventor).
4. Tampilan Antarmuka
Scratch: Warna-warni, memiliki karakter (sprite), panggung (stage), dan area skrip untuk membuat animasi atau game.
Blockly: Lebih sederhana dan fungsional; menampilkan blok kode saja tanpa karakter atau panggung.
5. Fitur Visual
Scratch: Fokus pada grafik dan animasi interaktif (sprite, latar belakang, efek suara).
Blockly: Tidak memiliki tampilan visual interaktif; hanya menghasilkan kode dari blok yang disusun.
6. Bahasa Pemrograman Dasar
Scratch: Berdiri sendiri dengan bahasa visualnya sendiri (tidak langsung diterjemahkan ke Python atau JavaScript).
Blockly: Dapat diatur untuk menghasilkan kode dalam berbagai bahasa seperti JavaScript, Python, PHP, Dart, dan Lua.
7. Tingkat Kesulitan
Scratch: Sangat mudah dan intuitif untuk anak-anak usia SD hingga SMP.
Blockly: Sedikit lebih teknis; cocok untuk pelajar menengah atau untuk integrasi ke platform belajar pemrograman yang lebih lanjut.
8. Cara Penggunaan
Scratch: Pengguna langsung membuat proyek di situs Scratch dengan menarik dan menyusun blok.
Blockly: Digunakan oleh developer untuk membuat alat pembelajaran berbasis blok; pengguna akhir memakai aplikasi yang dibuat dengan Blockly.
9. Output
Scratch: Menghasilkan proyek visual interaktif (game, animasi, cerita digital).
Blockly: Menghasilkan kode teks dari blok (misalnya kode JavaScript yang bisa dijalankan di web).
10. Integrasi
Scratch: Berdiri sendiri dan memiliki komunitas online besar.
Blockly: Dapat diintegrasikan ke berbagai platform atau alat, seperti Arduino, micro:bit, atau robot edukasi.
11. Komunitas dan Dukungan
Scratch: Memiliki komunitas global besar, tempat pengguna berbagi proyek dan saling belajar.
Blockly: Lebih banyak digunakan oleh pengembang atau lembaga pendidikan sebagai komponen dalam sistem belajar mereka.
12. Kegunaan Pendidikan
Scratch: Digunakan untuk mengajarkan logika pemrograman dasar dan kreativitas.
Blockly: Digunakan untuk membangun alat bantu pembelajaran pemrograman di berbagai bahasa.
13. Kemampuan Ekspor
Scratch: Proyek tersimpan di platform Scratch, bisa diunduh dalam format .sb3.
Blockly: Kode hasil blok bisa diekspor langsung ke bahasa pemrograman (misalnya ke JavaScript atau Python).
14. Sasaran Pengguna
Scratch: Anak-anak, pelajar pemula, dan guru di tingkat dasar.
Blockly: Pengembang, pelajar menengah, atau guru yang ingin membuat alat belajar berbasis blok.
15. Kustomisasi
Scratch: Terbatas pada blok dan fitur yang sudah disediakan.
Blockly: Sangat fleksibel, karena developer bisa menambah, menghapus, atau membuat blok baru sesuai kebutuhan.
16. Koneksi ke Perangkat
Scratch: Bisa dihubungkan ke perangkat seperti micro:bit, LEGO Mindstorms, dan Arduino melalui ekstensi.
Blockly: Juga bisa dihubungkan ke berbagai perangkat, tapi tergantung pada aplikasi yang mengintegrasikannya.
17. Struktur Proyek
Scratch: Proyek berbentuk cerita/game visual dengan sprite, latar, dan skrip per karakter.
Blockly: Proyek berupa susunan blok logika yang dikonversi menjadi kode sumber.
18. Jenis Pembelajaran
Scratch: Mengajarkan konsep logika dan kreativitas.
Blockly: Mengajarkan konsep pemrograman lebih teknis dan translasi kode nyata.
19. Bahasa yang Didukung
Scratch: Mendukung banyak bahasa termasuk Bahasa Indonesia.
Blockly: Juga mendukung banyak bahasa, tetapi tergantung pengaturan pada platform yang menggunakannya.
20. Contoh Penggunaan
Scratch: Digunakan di sekolah dasar untuk membuat game sederhana atau animasi.
Blockly: Digunakan di platform seperti Code.org, Tynker, App Inventor, atau Arduino Web Editor.


Komentar
Posting Komentar